Selasa, 12 Januari 2016

Trip to Aceh dan Danau Toba


Saya dan keluarga berkunjung ke kampung halaman kami di Aceh, dari tanggal 20 - 30 Desember 2015. Rencana kunjungan ini berawal dari saudara sepupu datang dari Aceh mengabarkan akan menikahkan anaknya. Kebetulan abang saya, juga akan pulang kampung dan dia pulang ke Aceh lewat jalan darat, bawa mobil bersama anak dan istrinya. Jadilah, kami kuatkan tekad untuk sekalian pulang kampung dengan niat silaturahim dan ziarah ke makam ayahanda di Kutacane, Aceh Tenggara. Karena ada mobil abang saya yang akan mengantarkan kami kesana ke mari di Aceh sana. Lebih leluasa, tidak perlu sewa mobil.

Kami berangkat hari Minggu, 20 Desember 2015 dari bandara Halim Perdanakusumah dengan penerbangan perdana jam 05.25. Tiba di Banda Aceh jam 08.30. Ini kali pertama saya dan kakak saya ke Banda Aceh, meskipun kami orang Aceh, karena setiap pulang kampung ke Takengon selalu melalui Medan langsung ke Takengon, tidak melewati Banda Aceh. Setiba di Bandara Sutan Iskandar Muda, kami di jemput mobil travel yang sudah dipesan oleh sepupu yang mau ngawinin anaknya. Kami tiba di Takengon, Aceh Tengah sekitar jam 6 sore, menjelang magrib.

Takengon adalah ibukota dari kabupaten Aceh Tengah, berudara dingin, dikelilingi oleh pegunungan, terdapat dua tempat wisata yang terkenal Danau Laut Tawar dan Pantan Terong. Ibu saya berasal dari Takengon, Aceh Tengah, sedangkan ayah  berasal dari Kutacane, Aceh Tenggara. Saya dilahirkan di Kutacane, umur 2 tahun di bawa ke Takengon, kemudian besar di pinggiran Jakarta, tepatnya di Depok.




bandara Sutan Iskandar Muda, Banda Aceh


Keesokan harinya, Senin, 22 Desember 2015,  sehabis sholat subuh, kami jalan kaki ke pasar paya ilang, beli sayuran dan tentu saja ikan depik, ikan  yang hanya ada di Danau Laut Tawar. Satu bambu Rp. 110.000... ehm lumayan mahal...mungkin karena sudah langka... Sore hari, kami melakukan ziarah kubur ke makam kakek dan nenek di kampung Kebet, sekalian silaturahim dengan saudara-saudara di sana, juga menyempatkan diri ke Pantan Terong, lokasi wisata baru yang ada disana. Sayang, karena sudah sore dan terhalang kabut, kami hanya sebentar disana. Padahal, Pantan Terong sangat indah, karena dari atas gunung ini, seluruh kota Takengon tampak terlihat jelas, termasuk Danau Laut Tawar nan elok itu.



Takengon 20 - 28 Desember 2015


Pasar Paya Ilang



Kebet

 Makam kakek  dan  nenek






 


Pantan Terong 

 






Danau Laut Tawar tampak dari Pantan Terong





  Danau Laut Tawar nan indah 




 Danau Laut Tawar


Burni Gajah





Hari Selasa, 22 Desember 2015 sekitar jam 10 pagi, kami berangkat menuju Kutacane, Aceh Tenggara, kota kelahiranku. Kami mengambil jalan alternatif, melewati danau laut tawar, ke ujung bintang, terus menuju Ise-ise, lewat Blang Kejeren dan pengunungan Leuser. Perjalanan kali ini benar-benar menguji adrenalin kami. Jalan berkelok-kelok dan berliku-liku mengitari gunung dan bukit, sehingga kedua kakak saya yang biasanya tidak muntah, kali ini muntah. Banyak jalan longsor, sering sekali kami temui buldozer dan becho sedang mengeruk tanah yang longsor. Di kiri kanan jalan, tebing tinggi dan jurang yang terjal, sepanjang mata memandang hanya hutan dan gunung.  Jalan kami sempat terhenti sekitar satu jam karena ada perbaikan jalan, Kami hanya menemui beberapa kampung, diantaranya kampung ise-ise, tempat kami makan siang. Berikutnya kami istirahat sebentar di sebuah kampung sebelum pegunungan Leuser. Kami tiba di Kutacane sekitar jam 8 malam. Dan kami berjanji, pulang nanti tidak lagi melewati jalan alternatif ini. Kapok, ceritanya.





 perbaikan jalan



inilah kampung ise-ise

 



Kutacane 22 - 23 Desember 2015



Makam ayahanda tercinta
 




 Lemang


Masjid Agung At-Taqwa 



 di rumah saudara sepupu 


Dari Kutacane, kami ke Danau Toba. Ini sebenarnya di luar rencana. Seperti saya sebutkan tadi diatas, kami kapok pulang ke Takengon melewati jalan alternatif kemarin, karena terlalu beresiko. Akhirnya, kami memutuskan melalui jalan provinsi jalur Medan - Takengon yang relarif jalannya lebih lebar dan bagus. Karena dari Kutacane ke Danau Toba, katanya hanya 5 jam, maka kami memutuskan untuk singgah ke Danau Toba, yang memang belum pernah kami kunjungi. Jadilah kami berangkat ke Danau Toba dari Kutacane, hari selasa sekitar jam 6 sore. Abang saya menggunakan mesin GPS untuk menuju Danau Toba. Rupanya, abang saya salah dalam menggunakan GPS ini, abang saya mengetik langsung Danau Toba saat di masih di Kutacane, seharusnya dia ketik berastagi  atau parapat... jadilah kami nyasar ke pulau Samosir, di tengah malam yang sunyi senyap karena hampir semua penduduk sudah terlelap. Kami melewati kawasan Sidikalang yang berliku-liku. Hadeuuhhh.... Sempat juga di tengah jalan terjadi accident kecil.... alhamdulillah, dibantu sama penduduk setempat, yang ternyata baik-baik, menolong kami untuk menderek mobil abang saya, meskipun harus membayar sejumlah biaya.... alhamdulillah lagi, kami semua selamat dan mobil abang saya juga tidak kenapa-kenapa.... Allahuakbar.... Allah Maha Besar.

Tapi apapun... akhirnya sampai juga kami di Danau Toba ... perjalanan panjang dan melelahkan terbalaskan dengan pemandangan Danau Toba nan Indah. Dan ternyata Danau Toba dan pulau Samosir itu sangat luas dan  besar sekali, tidak seperti yang ada dalam bayangan saya.....Subhanallah, sungguh indah maha karya MU.... kami menginap semalam di Parapat... sempat juga menyeberang ke pulau Samosir menggunakan kapal Ferry kecil... Penginapan disana juga tidak terlalu mahal, kami dapat penginapan yang murah sekitar 300 ribuan, kapal ferry per orang hanya 10 ribu saja. Makan juga tidak terlalu mahal. 


Danau Toba 23 - 25 Desember 2015









ehhh... ada monyet nangkring...


menuju Samosir









Hari Senin sore, tanggal 28 Desember 2015 kami pulang melalui Banda Aceh. Di Banda Aceh kami mengunjungi masjid raya Baiturrahman yang sedang direnovasi, Museum Tsunami dan Kapal PLTD Apung,  kapal yang terdampar ke daratan saat gelombang tsunami menerjang Provinsi Aceh. Kami makan siang di RM Spesifik Aceh, makan di sini tidak terlalu mahal, kami makan bersembilan hanya 280 ribu saja. Sore harinya, kami sempatkan ke Pantai Ulee Lheue, beli oleh-oleh dan makan duren di Leumbata. Dan esok paginya  ke Pantai Ujong Batee, makan siang di RM Selera Ujong Batee, juga tidak mahal, hanya 186 ribu saja, sore hari kami terbang untuk kembali ke Jakarta. Alhamdullilahh. Fabiayyialaairabbikumatukadzibann. 


Banda Aceh 28-30 Desember 2015


Masjid Raya Baiturrahman, sedang dalam renovasi 



 Museum Tsunami






 
 Kapal PLTD Apung






RM Spesifik Aceh

Pantai Ulee Lheue

 sunset di Ulee Lheue


Lontong Medan



Pantai Ujong Batee 








RM Selera Ujong Batee 



Jumat, 10 April 2015

Gabus Kuah Kuning



Gabus kuah kuning, menu hari ini (Jumat, 10 April 2015)... rasanya enak & gurih... tanpa penyedap tentunya... saya beli di pasar dekat rumah ... kata abang penjualnya, ikan gabus ini diperoleh dari hasil memancing di danau rawa jalan Juanda Depok, karena memang ikan ini hidupnya dirawa. Benar saja, saat membersihkan ikan ini, si abang mengeluarkan mata pancingan dari perutnya... kandungan gizi ikan gabus sangat baik sekali, mengandung albumin yg lebih tinggi dibanding ikan air tawar lainnya, seperti lele, ikan mas dan patin... #gabus #kulinernajah #tanpapenyedap #lauk #ikan #marimakansehat


Bahan : 
Ikan Gabus 1/2 kg

Bumbu : 
Bawang merah
Bawang Putih
Jahe satu ruas jari
Kunyit satu ruas jari
Kemiri 6 buah
sereh 2 batang 
Daun jeruk 
Jeruk nipis 2 sdm
Tomat satu ukuran sedang
Cabe rawit 

Cara membuatnya  :
Ikan gabus disiangi, dicuci bersih, beri jeruk nipis dan garam, diamkan 15 menit.
Rebus air 1/2 liter hingga mendidih, masukkan bumbu halus (bawang mewah putih, jahe, kunyit, kemiri), daun jeruk, sereh,  tunggu sampai bumbu matang, masukan ikan, tomat iris, dan cabai rawit yang masih utuh, garam dan air jeruk nipis, tunggu sampai matang, angkat, makan dengan nasi hangat. 

Selasa, 24 Maret 2015

Lempah Kuning




Lempah kuning ini adalah masakan khas pulau Bangka... aku modifikasi sedikit ...Aku peroleh resep ini dari teman sekamar suami saat dirawat di RSKD. Rasanya enak... tanpa bumbu penyedap tentunya...


bahan : 
ikan kembung 1/2 kg
jamur segengam
buncis segenggam
kentang 2 buah ukuran sedang 

Bumbu : 
Cabe merah 7 buah 
Bawang merah 6 buah
Jahe 1 ruas jari
Lengkuas 2 ruas jari di keprek
Daun jeruk 5 lembar  
Terasi satu sendok teh
Asam jawa satu sendok makan 
Tomat hijau 3 buah dipotong-potong
air 1/2 liter

Cara membuatnya : 
Ikan kembung dicuci bersih beri jeruk nipis dan garam, diamkan 15 menit. Blender cabe, bawang, jahe, terasi. Taruh semua bumbu ke dalam wajan beri air 1/2 liter, setelah mendidih, masukkan ikan kembung yang sudah dicuci bersih juga potongan kentang, biarkan sampai mendidih, selanjutnya masukkan jamur dan buncis, tunggu airnya agak kering, angkat. Makan selagi hangat.  

Cumi Udang Saos Tomat

 


Masakan ini saya bikin, atas ide dari anak kedua saya, ingin dibuatkan udang ala restoran yang ada saos tomatnya. Saya tidak ingin menggunakan saos tomat botolan, karena saya sudah lama berusaha tidak menggunakan saos tomat botolan maupun bumbu penyedap lainnya ke dalam masakan saya. Saya ingin  yang alami. Jadilah ini... tetap enak, tanpa bumbu penyedap dan tanpa pengawet yang biasanya ada di dalam saos tomat botolan. Coba deh... lebih sehat tentunya... tapi jangan sering-sering karena cumi dan udang dapat memicu kolesterol tinggi...hehehe...


Bahan : 
Cumi 1/2 kg
Udang 1/4 kg

Bumbu : 
Cabe merah 5 buah iris tipis
Bawang putih 3 siung di iris tipis
Bawang bombay ukuran besar diiris tipis
Tomat 5 buah ukuran sedang
Jahe 1 ruas jari
Daun jeruk 5 lembar
Garam 
Gula 
Minyak goreng untuk menumis

Cara membuatnya : 
Cuci udang dan cumi hingga bersih, buang tinta hitamnya, potong-potong sesuai selera. Beri jeruk nipis dan garam diamkan 15 menit. Blender semua tomat hingga halus. Tumis bawang putih, bombay, cabe, jahe, daun jeruk hingga harum, masukkan udang dan cumi yang telah dicuci bersih. Setelah setengah matang, masukkan tomat yang sudah diblender sebagai saosnya, aduk rata, tambahkan garam dan gula secukupnya. Beri air sedikit. Agar kuahnya kental, beri satu sendok makan tepung mazena yang sudah dicairkan. Diamkan hingga mendidih. Setelah kuah agak kering, angkat. Makan selagi hangat.

Pengat Tuwis Bandeng ( Masakan khas Gayo) Aceh Tengah





Masakan ini merupakan masakan khas daerah suku Gayo di Aceh Tengah. Ibu saya kebetulan berasal dari sana. Sejak kecil saya sering makan masakan ini. Selain bandeng, ikan lain juga bisa sebagai gantinya, seperti ikan patin, ikan mas, mujaer, lele juga boleh. Biasanya kalau ikan patin dan ikan mas dicampur dengan kacang panjang. Kalau ikan bandeng, enaknya dengan rebung. Masakan ini mirip dengan Ikan arsik dari Medan, Sumut.

Bahan : 
Ikan Bandeng 1/2 kg
Rebung 1/4 sudah diasamkan

Bumbu
Bawang merah 6 buah 
Cabe merah 8 buah, kalau mau pedas bisa ditambahkan
Kunyit 2 ruang jari
Tomat 1 buah ukuran sedang 
Jahe 1 ruas jari
Daun jeruk 5 lembar
Jeruk nipis satu buah 
Garam secukupnya
Air 1/5 liter

Cara membuatnya : 
Bersihkan ikan bandeng, setelah itu lumuri dengan jeruk nipis diberi garam sedikit, diamkan 15 menit.
Blender semua bumbu, kecuali daun jeruk dan jeruk nipis. Masukan ikan bandeng dan rebung yang sudah dicuci bersih, campurkan bumbu yang sudah diblender ke dalam wajan, taruh jeruk nipis, garam dan daun jeruk. Beri air secukupnya. Diamkan hingga mendidih dan airnya kering. Rasanya, pedas dan asam.

Selasa, 10 Maret 2015

Tanda-tanda kepergianmu....

Suami saya menderita sakit sekitar 7 bulan, sebelum akhirnya dipanggil yang Maha Kuasa pada hari Minggu, tanggal 18 Mei 2014 lalu. Saya ingin berbagi pengalaman atau sharing kepada pada pembaca yang sempat membaca blog saya ini. 

Suami saya menderita sakit kanker paru-paru stadium 4 yang sudah menyebar ke kepala. Pernah dirawat di dua rumah sakit. Saat pertama kali dirawat di RSKD, dokter spesialis paru-parunya sudah bilang ke saya bahwa menurut teori buku, usia suami ibu sekitar 6 bulan, tapi yang Maha Kuasa yang menentukan segalanya.Terakhir, sebelum beliau meninggal, sempat dirawat di RSKD Slipi sekitar 2,5 bulan.


Selama suami dirawat, saya sempat membaca di Internet, "tanda-tanda 100 hari menjelang kematian". Namun, kok sepertinya saya tetap tidak menyadari apa yang menjadi tanda-tanda sebelum kepergian almarhum. Saya menyadarinya setelah almarhum tiada. Diantara tanda-tanda itu, orang yang sakit terlihat seperti mau sembuh. 
  
Demikian juga dengan suami saya. Seminggu sebelum beliau meninggal, dia terlihat lebih segar dan makannya lebih banyak dari biasanya. Biasanya cuma 2 atau 3 suap, ini habis separuh piring, saya tentu saja senang. Saya lihat kakinya yang sebelah kiri, sudah bisa lurus. Ditambah memang suami disarankan dokter untuk dirawat di rumah atau home care atau pengobatan Valiatif.

Tiga hari sebelum almarhum meninggal, dia bilang, ada bapaknya datang. Mungkin ini yang dibilang orang-orang tua dulu, biasanya orang sebelum meninggal dijemput oleh orang tuanya yang sudah meninggal lebih dulu.  Sehari sebelum dia meninggal, hari sabtu sore, dia bilang juga ada banyak orang datang tapi saya tidak melihatnya, demikian juga malam harinya, katanya di belakang saya ada orang, tapi saya tidak melihatnya juga. 

Hari minggu pagi, seperti biasanya, saya mandikan dia, kali ini lebih bersih dari biasanya, kebetulan dia buang air besar, saya bersihkan sebersih-bersihnya pakai sabun,  seperti terbersit dalam pikiran saya,  apakah ini membersihkan diri yang terakhir, demikian terlintas dalam pikiran saya. 

Memang, pasca operasi dibagian kepala (jumat, 21 Maret 2014) bagian sebelah kiri badan suami  tidak bisa lagi digerakkan. Sejak itu, hampir setiap hari saya mandikan, di atas tempat tidur rumah sakit. Pertama-tama dibantu oleh perawat, lama-kelamaan saya bisa mandiri tanpa bantuan orang lain, termasuk ketika dia buang air besar, sekaligus mengganti seprei tempat tidur rumah sakit. Saya lakukan sendiri.  Alhamdulillah, saya diberi kekuatan dan kesehatan untuk merawat suami dengan tulus dan ikhlas. Saya berharap kesembuhan, namun Allah mempunyai rencana lain yang terbaik buat almarhum. Dia kembali kepada NYA dalam keadaan yang baik. 

Hari Minggu, sekitar sekitar jam  6 pagi, ketika bangun pagi, dia bilang, "ma kaki saya kok yang kanan baal (kebal)". Saya coba untuk mengangkat kaki kanannya disertai cubitan, ternyata memang tidak terasa, katanya. Kemudian, suami bilang bahwa ada orang di kakinya, tapi kami tidak melihat ada orang. Suami mengeluh sesak nafas, kemudian dipindahkan ke ruang darurat, dipasangi alat deteksi jantung, oksigen tambahan, dsb. Sekitar jam 10 pagi, suami sempat meminta maaf kepada saya dan teman sekamar suami. Kepada anak kami, dia masih sempat bilang, "Tan, papa kritis tan". Selanjutnya, tangan kanannya mulai tidak bisa digerakan. Saya dan keponakan, membacakan yasin di telinganya, sampai saat menjelang ajalnya, anak kami Sultan membacakan asma Allah di telinga sebelah kiri, saya di sebelah kanan, kepalanya miring ke kanan. Perlahan-lahan nafasnya semakin lambat, sampai akhirnya berhenti sekitar jam 14:45. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Saya cium keningnya, saya ucapkan, "Mama sayang sama papa, Allah lebih sayang sama Papa". Saya usap wajahnya. Semoga sakitnya menjadi khifarat (pengampunan dosa) baginya. Setelah itu,  baru saya nangis memeluk anak saya.

Dilihat dari kejadian diatas, jika dikaitkan dengan "100 hari menjelang tanda-tanda kematian", saya perhatikan hampir sama, namun sayang saya tidak menyadarinya, seperti ada yang menutup mata pikiran saya. Seminggu terakhir terlihat lebih segar, seakan mau sembuh, sering melihat orang tapi kita tidak melihatnya, yang sebenarnya menurut ibu saya, itu adalah malaikat penjemput. Pencabutan ruh suami saya, menurut ibu saya, sudah dimulai dari pagi hari sejak dia mengatakan kakinya baal (kebal). Subhanallah... dimulai dari kaki, perlahan-lahan sekali, bahkan ketika sudah mencapai lengan, dia masih bisa berbicara, mengatakan tanganya mulai baal...sampai akhirnya tiada. Semoga khusnul khotimah, Yaa Allah.

Oya, disaat yang bersamaan, di rumah kakak suami,  sedang diadakan pengajian anak yatim untuk adiknya yang sedang sakit ini. Menurut kakak suami, kepergian  almarhum hampir bersamaan dengan waktu selesainya pengajian yatim di rumahnya.

Saya selalu berdoa untuk suami saya, demikian juga anak-anak, selalu saya ingatkan untuk senantiasa mendoakan papanya.   

















Jumat, 27 Februari 2015

Liburan Imlek ... Menginap dua malam di Royal Safari Garden di Cisarua

Liburan Imlek kemaren, hari Kamis malam, keponakan telepon mengajak untuk menginap di Cisarua, Jawa Barat. Alhamdulillah, tentu saja senang. Saya dan anak-anak dijemput oleh supirnya,  kami berangkat Jumat sore (20/02/2015), lumayan macet setelah keluar tol Ciawi, tiba di sana sekitar jam 19:30 malam.

Kami menginap di Royal Safari Garden, selama dua malam. Setiba di sana, setelah istirahat sebentar, kami makan malam di restoran di kawasan resort ini. Restoran ini lumayan luas. Pengunjung dapat menikmati pertunjukan barongsai sambil menikmati makan malam, karena memang sedang imlek, jadinya ada barongsai. Anak-anak tentu sangat senang sekali. Juga ada atraksi hewan, burung dan anjing pudel yang lucu-lucu, diakhiri dengan pertunjukan musik, penyanyinya suaranya bagus banget. Di area restoran ini, dibagian belakang terdapat penangkaran macan tutul yang dikelilingi oleh kaca, anak-anak dapat melihat dari luar. Juga ada burung kakak tua, dan bisa foto bersama burung-burung tersebut. Makanan di restoran ini juga enak-enak dan variasinya lumayan banyak.

Keesokan paginya, setelah sarapan di restoran yang sama, kami menikmati berbagai macam jenis fasilitas permainan di Royal Safari Garden ini. Ternyata resort ini luas sekali, memanjang  ke belakang, terlihat dari depan tidak begitu luas. Pagi hari anak-anak berenang  di kolam renang.  Setelah puas berenang, anak-anak menikmati aneka permainan yang tersedia disini. Sepertinya resort ini milik taman safari, karena disini juga ada taman burung, terdapat berbagai macam jenis burung, taman bermain, anak-anak juga dapat naik kuda, gajah dan onta. Bom-bom car juga ada, kereta mini, bebek-bebekan, flying fox. Memancing, memberi makan kerbau, banteng, rusa, kelinci, ada juga permainan pain ball. Untuk pengunjung yang menginap disediakan sejumlah tiket gratis untuk beberapa arena permainan. Harga dari masing-masing permainan bervariasi. Naik gajah dan kuda per anak Rp, 30.000, Fly Fox Rp. 35.000,  bom-bom car Rp. 25.000, Kereta mini Rp. 25.000, memancing Rp. 25.000, pain ball sekali bermain Rp. 25.000, memberi makan hewan Rp. 15.000 per keranjang kecil... Oyaa... pengunjung juga dapat naik kereta mini keliling kawasan ini sepuasnya, gratis tidak bayar. Terdapat juga penyewaan sepeda. Ada sepeda single, double, dan triple. Untuk sepeda triple pemakaian sejam dikenakan biaya Rp. 50.000 plus deposit Rp. 50.000 yang dapat diambil kembali. Ada juga tempat untuk pijat reflexi setelah lelah beraktivitas di resort ini.

Setelah puas bermain aneka permainan di kawasan ini, kami istirahat kembali ke kamar, untuk sholat zuhur dan makan siang. Keponakan mengajak makan siang di Restoran Rindu Alam, di Puncak Pas. Saya memesan, sayur asem, petai bakar, ikan asin jambal plus sambal terasi. ehmm nikmat.

Selepas makan siang, kami balik lagi ke Royal Safari Resort, hari sudah sore. Selanjutnya kami sholat asar, sehabis magrib kami makan malam lagi di restoran di dalam resort ini, sambil menikmati kembali pertunjukan barongsai, atraksi binatang dan hiburan musik dari girlband yang lumayan terkenal, saya lupa nama grup nya. Juga ada doorprize untuk para pengunjung restoran.

Hari mingggu pagi, karena check out siang jam 12, kami masih menikmati kembali fasilitas yang ada di sini. Anak-anak memang tidak bosan-bosannya bermain, hari ini ditambah dengan memancing bersama. Pulangnya, kami makan siang di Rumah makan Ma'Pinah. Saya memesan es kelapa muda, gurame bakar, sayur asem plus sambal. Rasanya lebih juara dibandingkan di Rindu Alam kemarin siang. Alhamdulillah...Terima kasih banyak yaa... mba iis dan mas edi yang baik hati.... kapan-kapan ajak lagi yaaa..... @ngarep.com    :D